Parenting

Memilih Obgyn Lebih Rumit Daripada Memilih Pacar

Waktu kemarin di awal kehamilan, ada beberapa hal yang jadi perhatian kebanyakan calon ibu. Hal tersebut adalah MEMILIH DOKTER KANDUNGAN. Seperti kebanyakan orang, saya juga bimbang bimbang labil saat memilih dokter kandungan. Tapi mungkin saya masih kalah labil dibanding beberapa teman-teman saya yang sampai usia kandungan 7 bulan lebih masih gonta ganti dokter. If you’re one of them, that’s fine, being picky is good sometimes.. 🙂

Dokter kandungan memegang peranan erat selama kehamilan. Saya pribadi punya beberapa poin penting yang jadi perhatian saat memilih dokter kandungan.

  • Dokter harus inisiatif. Ketika hamil, apalagi kehamilan pertama, we tend to be soooo curious about the pregnancy. Naaaah, dokter yang pertama saya coba cek di RS Premier Bintaro, kebetulan seorang ibu-ibu cukup berumur, orangnya kurang bisa mengakomodir perasaan penasaran saya. Bu dokter itu gak bisa memastikan apakah saya hamil atau tidak padahal saya sudah terlambat menstruasi hampir 3 minggu. Memang belum kelihatan di USG abdomen (perut). Menurut beberapa sumber, kalau usia kandungan masih sangat muda, kita harus USG vaginal untuk bisa lihat kantong janin, karena sangat sulit terlihat lewat USG abdomen. Si bu dokter bahkan tidak mencoba atau menawarkan USG vaginal ke saya. Probably she thinks it’s unnecessary, but I personally think that giving a certainty regarding a pregnancy IS REALLY IMPORTANT. Jadi, maaf sekali, bye bu Dokter, aku gak akan kontrol sama ibu lagi. 🙂
  • Dokter harus sopan. Gagal dengan dokter wanita, saya coba beralih ke dokter pria. Waktu itu cuma selang beberapa hari dari kontrol pertama saya, saya mencoba datang ke dokter obgyn pria yang praktek di klinik dekat rumah saya, Petukangan Medical Center. Ternyata, dokternya masih MUDA BANGET. Jadi agak kagok sih kalau boleh jujur, soalnya he doesn’t look like he’s 30 at all. Kayak masih 20-something. TAPI, dokter ini menyarankan saya USG Vaginal. Jujur, dengan kekagokan saya, saya agak khawatir USG Vaginal pertama saya bakal jadi pengalaman gak enak. Eh ternyata, si dokter sopan bangeeeet. Doi keluar dari ruangan ketika saya dipersiapkan suster. Pas lagi meriksa, doi gak liat ke arah bawah tuh, fokus di layar dan alat USG. DAAAAN, doi memberi jawaban bahwa saya hamil karena sudah ada kantongnya. TAPI LAGI, karena beliau masih muda, saya dan suami yang menyimpan pertanyaan pribadi agak segan buat bertanya. Well, you’re good, but sorry we’re not comfortable enough, Doc. 😦
  • Dokter harus informatif. Gagal dengan dua orang dokter, kami mencoba ke dokter lainnya setelah usia kandungan kurang lebih 9 minggu (hasil tangtingtung sendiri). Kali ketiga ini kami mencoba untuk cek ke Brawijaya Women and Children Hospital. BWCH terkenal dengan beberapa image kalau mommies sering browsing di forum forum. Terkenal bagus secara pelayanan dan kualitas, dan terkenal mahal. Harga bicara, begitu singkatnya. Well, terlepas dari harganya yang mahal, saya dan suami penasaran buat coba cek disini. Kebetulan seorang teman saya baru saja cesar di Brawijaya, ditangani sama dr Uf Bagazi. Saya sendiri punya rencana cesar, mengingat minus mata saya cukup besar, minus 5, yang katanya sih, akan membahayakan kalau melahirkan normal. Jadi berkat saran si teman, saya cek deh ke dr Uf. Ternyata, orangnya sudah 40something gitu and he’s very dandy!! Pas cek, si dokter langsung mengabarkan saya hamil 9 bulan (yeee, hitungannya benar) dan ajaibnya, beliau langsung kasih beragam informasi yang selama ini jadi tanda tanya bagi saya dan suami. DUUUUH SENANGNYAAA!!! Meskipun memang, cek di BWCH sedikit di atas harga rata-rata cek di obgyn lain, WE NEVER REGRET IT! We’ll come back next month, Doc!
  • Dokter harus cepat tanggap. Selama 28 minggu kehamilan ini (iya lho, gak kerasa ya udah 28 minggu aja), bukan sedikit saya merasa sesuatu yang “gak enak” terjadi pada badan saya. Namanya juga bumil, bukan bumil kalau semuanya enak-enak aja. Hehe.. Alhamdulillah, ini bukan perkara mual sih. Ajaib kehamilan pertama saya ini gak diwarnai dengan kemualan ngidam atau morning sickness lainnya. Hamilnya lancar. Tapi pas 5 bulan kemarin, saya sempat merasa sedikit kontraksi dan gak enaaaak sekali buat bobo. Akhirnya saya whatsapp dr Uf, dan beliau membalas cepat, memberi saya solusi utk minum Duvadilan setengah tablet. Kalau dokter Uf itu agan kaskus, beliau pasti udah jadi recommended seller yang superfast respond. LOL. Puasa ini juga saya alhamdulillah puasa juga, tapi kemarin beberapa hari saya sakit sekali kalau menelan, dan rasanya kayak ada sendawa yang mau keluar tapi gak bisa. Lagi-lagi, curhat sama dr Uf dan langsung dikasih solusi minum obat maag, and it’s gone. Awesome. We love you, Doc!

Well, mungkin itu beberapa kriteria dokter obgyn yang penting. Mungkin buat beberapa mommies lain, dokter cewe dan cowo itu juga jadi kriteria tersendiri, but IMHO, itu cuma persoalan preferensi aja. Saya pribadi memilih dr Uf karena beliau yang bisa memberi saya rasa nyaman dan semua informasi yang saya butuhkan selama masa kehamilan. I will be delivering my baby boy in late Sept or early Oct. Wishing things gonna be alright. Semoga curhat saya tadi bisa berguna buat mommies dan reader-reader lainnya. Choosing an obgyn is indeed waaay more complicated than just choosing a guy. :p

Buat yang penasaran, ini lho, dr Uf, dokter obgyn saya:

Diunduh dari google
Diunduh dari google
Advertisements

2 thoughts on “Memilih Obgyn Lebih Rumit Daripada Memilih Pacar

  1. Sehat-sehat ya Dinar dan calon baby boy nya, semoga lahirannya lancar :*

    Tertanda, teman kampus yg hobi stalking segala medsosmu sejak aksi c-o-c-o-n-u-t dinamika kampus dulu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s