Parenting

Dilema Pengasuh: Babysitter atau ART?

Menjadi ibu yang merangkap working mom bisa jadi problematika tersendiri. Siapa yang akan mengurus bayi di rumah? Mbak kah? Sewa babysitter kah? Atau minta tolong keluarga? Dilema serupa saya alami ketika akan masuk kantor pertama kali (setelah sekian lama jadi pegawai tugas belajar) akhir November lalu. Gilanya, saya baru dapat kabar penempatan kantor 3 hari sebelum jadwal saya harus masuk. Lalu siapa yang akan mengurus babyboy selama saya tinggal?!

Pada saat itu, opsi saya cuma tiga, diurus ART, cari babysitter, atau titip eyangnya sementara saya mencari pengasuh. Too bad, Eyangnya babyboy punya kesibukan kerja juga. Mertua memang masih aktif bekerja, sedangkan ibu saya berdomisili jauh dari tempat tinggal kami. Opsi keluarga terpaksa harus kami coret.

20151119_204956
Malam terakhir sebelum kembali ke kantor

Opsi pertama yang jelas ada di depan mata adalah asisten rumah tangga. Saya dan hubby sudah punya asisten rumah tangga sejak kehamilan mencapai usia 7 bulan. ART kami memang agak “berumur” dibanding ART pada umumnya. Dulu memang kami berharap ART ini bisa mengurus bayi karena beliau kerja momong anak sebelum pindah ke tempat kami. Tapi oh tapi, beliau gak pernah ngurus ASIP dan mengoperasikan segala peralatannya. Dan kami cuma punya tiga hari. Sudah saya coba ajarkan, namanya orang tua, ya sedikit susah “ngerti”nya. Akhirnya kami memutuskan kalau ART kami gak bisa handle babyboy sendirian. Dia butuh seseorang yang lebih muda yang lebih “cekat ceket” dan gak gaptek. Another homework it is.  Perlu diingat, mencari ART baru yang lebih muda belum tentu bisa momong anak, apalagi mengelola ASIP. Lalu ART mau dicari lewat mana? Penyalur? Keluarga? Atau siapa? Muncul pertanyaan-pertanyaan di benak kami, plus minus kalau kami meng-hire ART baru.

Di tengah kegalauan ART, saya mencoba browse female daily. Forum ibu-ibu yang membahas soal ART dan babysitter panjaaaaang sekali. Cenderung kurang helpful karena ternyata banyak yang membicarakan soal track record beberapa yayasan. Tapi thanks to ibu-ibu female daily, saya dapat beberapa referensi yayasan yang katanya bagus untuk ART dan babysitter.

Awalnya, saya agak “antipati” dengan opsi babysitter. Bukan apa-apa tapi cerita tentang babysitter yang beredar di lingkungan ibu-ibu kebanyakan negatif. Ada yang bilang babysitter suka kasih obat tidur, babysitter kasar sama baby, babysitter ini babysitter itu, and other countless scary stories. Harus diakui memang banyak babysitter yang nakal. Tapi apa benar semua babysitter begitu adanya? Karena saya “terhimpit” kondisi waktu yang mepet untuk mencari pengasuh babyboy, akhirnya saya terpaksa mempertimbangkan opsi babysitter. Dari hasil browsing, saya mendapatkan nama sebuah yayasan yang “katanya” bagus soal ART dan babysitter:

LPK KHARISMA JAYA
Alamat: Jalan Manunggal II No. 60, Ceger, Cipayung, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia Telepon:+62 21 84591983

Saya telepon LPK Kharisma Jaya di hari Sabtu pagi. Langsung dilayani oleh bu Ambar. Tanpa basa basi saya langsung menjelaskan kondisi saya yang in desperate need of pengasuh anak. Dengan kondisi saya, Bu Ambar menyarankan daripada ART, lebih baik babysitter, karena babysitter di LPK sudah tersertifikasi dan terbiasa menggunakan peralatan bayi modern (Iya lho peralatan bayi sekarang ajaib dibanding zaman dulu kala). Kala itu, saya telepon sambil liatin babyboy. Di pikiran saya, benar juga kata Bu Ambar. Kalau ART yang megang, bisa sih, tapi saya harus “ngajarin” dari nol, dan mungkin mereka belum terbiasa pegang newborn. Mau jadi apa nasib babyboy saya?! Dan tanpa basa basi, akhirnya…

“Yaudah deh Bu Ambar, kalau ada babysitter saya mau.”

Dengan nada ceria Bu Ambar meminta data diri saya. Kemudian saya baru teringat, kalau babysitter itu PASTI gak murah. Jadi saya tanya lagi, berapa biaya yang harus saya bayar, dan gaji babysitter. Bu Ambar menjawab dengan kalimat alien,

“Tanda jadi 1,9 juta bu, garansi 3 bulan untuk 3kali. Gaji 3juta dibayar langsung ke babysitter. Jatah cuti perbulan 2 hari, seragam tiga bulan sekali.”

WHAT WHAT WHAT?! Dalam sepersekian detik saya mencoba meresapi kata-kata Bu Ambar. Jadi inilah mengapa babysitter dari yayasan itu MAHAL. Uang tanda jadi adalah biaya yang kita bayarkan ke yayasan untuk “mengambil” babysitter dari mereka. Garansi berarti apabila dalam 3 bulan kita tidak merasa cocok dengan orang tersebut, bisa diganti (tanpa harus membayar tanda jadi lagi) sebanyak 3x. Gaji dibayar langsung ke babysitter tiap bulan. Berarti saya gak perlu khawatir babysitter saya gak digaji oleh yayasan, karena ternyata yayasan gak memotong gaji mereka. Jatah cuti adalah waktu libur babysitter, yang kalau mereka gak ambil, harus kita bayarkan 100rb/hari. Dan seragam mereka, harus kita beliin tiap 3 bulan sekali ATAU dibayarkan mentahnya 200rb/3 bulan.

ASTAGA. MAHAL AMET. *pingsan*

Tapi saat itu, saya gak punya opsi lain. Rela deh ngencengin ikat pinggang demi babyboy dapet pengasuh yang “bener”. Akhirnya saya deal dengan bu Ambar, dan Sabtu siang itu juga, babysitter diantar ke rumah kami.

Begitu datang, kondisi sedang hujan, babysitter kami datang basah kuyup, langsung minta mandi untuk bersih bersih. Gak lama, doi sudah rapi dan siap ngobrol sama kami, berseragam ala suster. Dari interview singkat, ternyata, si suster sudah 18tahun jadi babysitter. Kami adalah “pribumi” pertama yang dia urus. Biasanya, suster pegang baby tionghoa atau korea atau bule. WOW.

Karena ini pertama kalinya saya punya babysitter, bingung juga mau “nyuruh” apa di hari pertama si suster kerja. Tapi ternyataaaa memang dasarnya suster profesional, doi langsung bertanya soal babyboy, kebiasaan, waktu mandi, pup, dan lain laiiiiin. Gak pake banyak bacot, si suster langsung minta waktu untuk cuci semua peralatan babyboy. Bener-bener gak perlu ngajarin apa-apa, mendadak tune in aja gitu. Selama minggu pagi sampai minggu siang saya awasi pekerjaan susternya, dan bener, sudah pro banget. Semua bersih, tertata, teratur, dan lihai. Babyboy pun gak rewel sama sekali dipegang si suster.

Di Minggu malam persis sebelum saya meninggalkan babyboy saya melloooooow berat. Setelah dua bulan ngurus babyboy sendiri, melihat semua milestone pertamanya, akhirnya saya harus menyerahkan sebagian besar waktunya dengan orang lain. I bet every working mom has to face this mellow time. Gimana nanti kalau dia lebih dekat sama susternya? Gimana kalau nanti dia kenapa-napa? Gimana kalau nanti dia nangis dan rewel? Tapi saya ingat satu hal, our baby feels what we feel. Kalau saya meninggalkan babyboy dengan sedih, pasti dia akan merasakan. Embrace yourself, Dinar!

Time goes by, setelah hampir 4 bulan, ternyata babysitter dan babyboy saya akuuuur banget. Akur dalam taraf yang PAS, gak berlebihan, karena kalau saya datang, babyboy langsung manja sama saya. Means, dia gak tergantung sama susternya. Weekend adalah waktu kami bertiga, saya, hubby, dan babyboy. Full gak dipegang susternya. Susternya biar bersih-bersih. Hehehe.. Memang sih, bayar babysitter itu mahal, tapi semuanya sepadan dengan semua profesionalisme dia, seperti disiplin peralatan yang bersih dan steril, gak mau cium baby, dan menyusui ON TIME, gak sampai baby nangis dulu. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan suster yang cukup rajin dan berpengalaman. Saya juga jadi belajar banyak, terutama saat memasuki masa MPASI ini. Hopefully, kelak suster ini awet terus sama babyboy saya (dan siapa tau ada babygirl di masa depan hihi..). AMIIIIIIN!!!

screenshot_2016_03_29_15_45_04_01
Sus Nely dan Galen! 🙂
P.S: Post ini bukan untuk promosi yayasan ya, cuma untuk memberi referensi buat moms lain 😉

 

Advertisements

9 thoughts on “Dilema Pengasuh: Babysitter atau ART?

    1. Mahal abiiiiiss.. tp worth me, belakangan doi masak dan jago banget, juga gak keberatan ngerjain kerjaan rumah. Alhamdulillah deh :”)

  1. Waaah postingan ini pas banget sama yang aku rasain sekarang… Rasanya saat cuti berakhir ga rela ya baby dipegang sama orang lain hiks. Smoga aku segera dapat pengasuh yang oke dan terpercaya juga 😊

    Thanks for sharing ibunya Galen! 😊

    1. Kita semua bakal sedih cha ninggalin baby di rumah sm pengasuh. Hiks! Tp kita harus kuat supaya babynya gak sedih juga. Semangat ichaaa!! :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s