Parenting

Ketika ibu bimbang “menyekolahkan” Galen

Halo! Apa kabar moms?

OMG, cuti bersalin saya tinggal tersisa satu setengah minggu lagi. Time is golden nowadays. Rasanya belum ingin meninggalkan anak-anak di rumah dan kembali ke kantor lagi, meskipun ada secuil hati yang kangen sama teman-teman kantor. Hehehe..

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah shared status yang cukup panjang di Facebook, intinya berisi saran untuk tidak menyekolahkan anak terlalu dini. Berikut tulisannya:

Jika Anak Sekolah Terlalu Dini
(Elly Risman, S. Psi)
1. Keyakinan umum…
* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yg tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas
* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.
2. Sehingga…
Ada ortu yg menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yg masuk prasekolah diusia 1,5-2 tahun.
3. Mari kita bercermin…
* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?
* Apakah kita disiapkan mjd orang tua?
* Apakah memiliki bekal yang cukup dlm mengasuh?
* Bagaimana innerchild diri kita?
4. Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu.
5. Ilmu yg kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung.
Ilmu yg setengah-tengah, berujung pada false belief (keyakinan yg salah).
Sayangnya false belief ini dpt berubah menjadi societal false belief (keyakinan yg salah pd sekelompok orang).
Jika ortu tdk memiliki kemampuan berpikirHat thinking skill) yg baik, false belief akibat ilmu yg serba tanggung itu jd pembenaran bersama atas keputusan kita yg keliru.
6. Pintar ada waktunya!
Karena yg berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini hrs jadi anak yg bahagia, bukan jd anak yg pintar!
7. Kita berpikir…
“Kan di sekolah belajarnya sambil bermain”
“Kan anak perlu belajar sosialisasi”
“Kan anak jd belajar berbagi & bermain bersama”
Padahal…
* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dg beragam orang
* Saat anak diusia dini, otak anak yg paling pesat berkembang adl pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya.
8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!
Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dg ayah ibu jga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.
9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.
Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dg permainan yg siap pakai.
Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.
10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi.
Anak <5 th blm saatnya belajar sosialisasi. Ia blm bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.
Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yg sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2)
Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.
11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan & mengikuti instruksi.
Aturan & instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak?
Analogi: Seorang anak <5 thn yg sangat berbakat dlm memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yg banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yg dirasakan anak: pusing!
12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.
Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa.
Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.
Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).
anak yg mengalami BLAST, lebih rentan mjd pelaku & korban bullying, pornografi & kejahatan seksual.
13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah…
Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa teachable moment, krn memang ada anak yg mampu sekolah lebih cepat dr ketentuan umum yg berlaku. Ortu harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan ortu, krn otak anak belum sempurna bersambungan.
14. Ciri anak memasuki masa teachable moment.
* Menunjukkan minat utk sekolah
* Minat tersebut bersifat menetap
* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.
15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?
* TK A → usia 5 th
* TK B → usia 6 th
* SD → usia 7 th
Dibawah usia 5 th, anak tdk perlu bersekolah.
Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain & terbentuknya kelekatan.
Jangan kau cabut anak2 dari dunianya terlalu cepat, krn kau akan mendapatkan orang dewasa yg kekanakan. -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-
Sumber: Yayasan Kita & Buah Selir Hati

Jujur saja, saya sedikit tertohok. Bukan apa-apa, saya sendiri berencana “menyekolahkan” Galen yang baru berusia 1,5 tahun ke toddler class Juli nanti. Setelah baca status ini, saya mendadak gamang. Saya merasa bersalah atas status Working Mom saya. Maybe I should be a Stay-At-Home Mom. 😦

Sebulan belakangan saya “berpikir keras”, apakah keputusan saya dan hubby sudah tepat. Saya diskusi lagi dengan suami, orang tua, dan Galen (meski responnya hanya HUWA HUWA ABA), sambil baca-baca artikel lain tentang pre-school. Puluhan artikel saya baca dan ubek-ubek demi menjawab kegamangan ini.

Dari hasil riset browsing kecil-kecilan saya, betul pre-school itu bisa membawa banyak manfaat. Seperti dilansir popsugar.com,  preschool toddler, atau kalau di luar negeri lebih akrab disebut “daycare”, memberi ruang bagi anak untuk belajar berinteraksi dengan teman sebayanya, serta membangun kedisiplinan anak dengan jadwal yang jelas, kapan makan, kapan nap time. Situs greatschool.org menyatakan bahwa pre-school adalah ruang yang tepat bagi anak untuk berkembang, meningkatkan kemampuan sosial, emosional, dan berbahasa.

Tapi bukan sedikit juga artikel yang senada dengan status facebook tadi. Seperti sebuah artikel di Slate.com yang menyatakan:

So what’s a type-A parent to do? If you’re providing your child with a stimulating environment at home—and if you’ve read this far, you probably are—don’t stress about preschool. Hell, skip the whole damn circus if you want. (My husband is going to quote me on this later.) Or apply, but if little Aiden doesn’t get into his (er, your) first choice, don’t fret. Instead, take to heart the blunt, reassuring words of social psychologist Richard Nisbett, co-director of the Culture and Cognition program at the University of Michigan. When I asked him how important it is to send your child to the best preschool, he told me that as far as he knows (and he seems to know a lot), “It doesn’t make a damn bit of difference.”

Terus beneran nih? Jadi keputusan saya salah ya, ujar saya dalam hati. Sampai akhirnya saya kembali berpikir tentang tujuan utama saya “menyekolahkan” Galen. Saya adalah working mom, yang berangkat pukul 6 pagi dan baru tiba di rumah pukul 6 sore, dari hari Senin sampai Jumat. Saya hanya bisa bermain dengan Galen setelah maghrib, dan di akhir pekan. Saya sadar betul, betapa minimnya saya bisa mengawasi dan mengajaknya bermain. Lalu masa saya ngandelin baby sitter untuk “mengajari” Galen?Inilah faktor utama dulu saya berpikir untuk memasukkan Galen ke toddler class, bukan supaya ia cepat cerdas, bisa dua bahasa, ini itu segala. Bukan. Saya cuma pengen Galen gak melulu nonton tv atau main mobil-mobilan selama saya bekerja. What a waste of time.

Masih dengan kegamangan yang gak berkesudahan, saya mendaftarkan Galen ke sekolah yang saya tuju. Sekolahnya bukan sekolah mewah atau yang ngehits di ibukota. Toddler class Galen lokasinya gak jauh dari rumah, supaya mudah mengawasinya, dan saya gak waswas akan keamanan. Tiba di sana, saya disapa pengurus TU, dan diajak melihat toddler class, yang nanti jadi kelasnya Galen. Setelah masuk ke ruangan, yang saya lihat bukan pemandangan kelas seperti biasa. Anak-anak gemas itu sedang antri berwudhu, dilanjutkan dengan solat duha berjamaah. Lalu ibu tersebut berujar, “Untuk kelas toddler kita tidak fokus ke pelajaran bu, yang dilatih masih sederhana, bagaimana bicara, berteman, antri, berdoa, makan dan minum sendiri. Memang ada pelajaran tapi masih yang sederhana untuk melatih kognitif mereka seperti mewarnai, membentuk lilin, gitu bu…”. Bimbang itu sedikit memudar.

Bersyukurlah para Stay-at-home Mom, rumah adalah tempat terbaik untuk anak kita, terutama di usia dininya. Nothing can beat mom’s education and caress. Sayangnya, Working Mom seperti saya gak punya privilege untuk selalu mengawasi dan berada di samping mereka. Dan saya lebih memilih untuk mendaftarkan Galen ke toddler class dimana ia bisa “diajarkan” dengan lebih teratur oleh orang lain, ketimbang hanya di rumah dengan pengasuhnya.

People who insist on the necessity of having mothers stay home with their children full-time are missing the point. At home, as at nursery, it is the quality of care that matters.

-Sally Peck, from telegraph.co.uk

Mudah-mudahan, pilihan yang saya ambil untuk Galen tepat. Apapun kondisinya, setiap ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya toh?

Advertisements

6 thoughts on “Ketika ibu bimbang “menyekolahkan” Galen

  1. Kalau menurut daku sih semuanya kembali ke orangtuanya, apalagi kalau orangtuanya bekerja.
    Dua anakku sekolah pada usia dini karena dakunya kerja, dan aku milih sekolah yang memang untuk bermain bukan belajar berat. Nggak ada masalah tuh, selama kita waktu di rumah memang fokus sama anaknya.
    Anakku yang bungsu, sekolah usia 5 tahun dan daku udah nggak kerja lagi. Sama saja dengan kakak-kakaknya nggak ada perbedaan 🙂
    Yakin saja dengan konsep parenting ala dirimu sendiri, jangan terpengaruh sama berbagai pendapat yang berseliweran 🙂
    Peace yo.

    1. Bener ya mba. I believe mommy knows best. Mudah mudahan anakku nanti bisa tumbuh kembang baik di preschool-nya. Aku lebih gak tega kalo dia cuma di rumah 24 jam sama susternya doang 😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s