Bits and Bobs · Traveling

Rindu Madinah

Di dunia ini, ada beberapa tempat yang selalu saya rindukan, Bandung, kota kelahiran dan kota masa kecil saya, Bali, sebuah daerah yang selalu saya cintai, dan Madinah, kota yang……….. ­čÖé

Malam ini, saya teringat perjalanan umroh saya dua tahun lalu. Saya tidak pernah menyangka akan dapat pergi umroh di usia muda begini. Tapi rezeki memang tidak ada yang tau. Saya diberi kesempatan untuk umroh saat usia pernikahan belum ada setahun, dan pada saat itu, saya sedang mengandung anak pertama yang belum melewati usia trimester pertama.

Dulu waktu berangkat umroh, saya dihinggapi berbagai kekhawatiran. Bagaimana tidak, begitu banyak cerita yang melingkupi perjalanan haji dan umroh yang membuat saya begitu bersemangat, namun di sisi lain juga merasa kecil. Apa ya yang akan terjadi dengan saya di sana? Apa saya akan sehat-sehat saja? Apa janin saya akan sehat? Apa saya sanggup? Apakah saya akan bisa melewati semua tahap? Dan mungkin yang paling sering berkecamuk, apakah saya pantas?

Segala kekhawatiran itu lenyap seketika, ketika saya menginjakkan kaki di kota Madinah, kota Rasulullah. Setibanya di Madinah, saya merasa hangat. Kehangatan tersebut membaur bersama suasana Masjid Nabawi yang begitu teduh. Saya seolah disambut dengan pelukan hangat yang begitu familiar, meski ini mungkin kali pertama saya merasakan hal tersebut.

DSC00243.JPG
Sambutan hangat Masjid Nabawi

It felt like home. Suami saya selalu bercerita, Nabawi adalah rumah-nya Rasulullah, that’s why we will always feel like home. Tapi saya tidak menyangka perasaan yang timbul memang begitu akrab.

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan berada tiga hari di Madinah. Hari pertama saya dan suami berjalan-jalan mengeksplor Masjid Nabawi dan sekitarnya. Saya cukup amazed dengan adanya gerai kopi Starbucks dan gerai baju H&M tidak jauh dari Masjid Nabawi. Dan benar saja, hampir di setiap sudut di lingkar luar Masjid Nabawi dihiasi oleh pedagang-pedagang berbagai jenis barang. Yang paling mengesankan dan ngangenin, tentunya adalah eskrim dimana-mana. Syurga banget!

DSC00272.JPG
Ngeskrim bada ashar

Hari kedua merupakan hari yang amat mendebarkan. Kami diberi kesempatan mengunjungi Raudhah. Saya deg-degan banget. Konon, sangat amat sulit untuk bisa shalat dan berdoa di raudah. Puluhan ribu pengunjung tiap harinya berjuang untuk beribadah di tempat yang luasnya hanya 144meter persegi. Pemandu kami bahkan menyampaikan untuk tidak ngoyo karena raudhah untuk wanita tempatnya sangat sempit dan akan sangat sulit untuk bisa sholat di sana. Nah lho, padahal saya bawa bayi (di perut).

Lagi-lagi kehendak Allah SWT, jalan menuju raudhah yg harusnya kami tempuh dengan “mengantri” dapat kami lewati dengan cepat. Setibanya di raudhah, perempuan-perempuan jazirah arab yang badannya mungkin dua atau tiga kali lipat besarnya dibanding perempuan Indonesia telah memenuhi raudhah. YALA YALA HAJJAH!! teriak para askar memburu-buru orang-orang yang kelihatan “tidak bergerak”. Selalu ada pergerakan masuk keluar yang begitu cepat di raudhah. Tidak ada ruang untuk solat. Lalu ibu mertua saya “Ayo dinar cepat sholat disini, mama jagain”. Sambil melihat sekitar, benar saja, setiap orang solat dengan ruang yang begitu sempit, dengan hilir mudik orang, terdorong sana dan sini. Akhirnya dengan perjuangan mama mertua yang gigih, saya bisa solat dua rakaat dan gantian menjaga mama sholat. Tidak lama, kami di teriak-teriakkan oleh askar untuk segera bergerak. Galak betul deh. Kami berusaha keluar dari keramaian dan di ujung raudhah, kami berhasil solat dua rakaat lagi. Rasanya Subhanallah.

Menulis ini saya menangis. Rindu sekali rasanya, ya. Inilah rasanya merindukan rumah Rasulullah. Selama dua tahun saya menyimpan kenangan umroh saya di dalam batin, karena takut riya, tapi mungkin tiba saatnya saya merasa perlu berbagi kerinduan ini. Madinah begitu mudah dirindukan. Suasananya, kehangatannya, teduhnya, angin semilirnya, burung-burungnya, eskrimnya, al-qurannya yang selalu wangi, karpet masjidnya yang begitu nyaman, langit-langit masjidnya yang begitu menawan, and last but not least, suara adzannya yang begitu khas, lembut, mendayu, membuat rindu.

Ya Allah, mudah-mudahan saya diberi kesempatan lagi untuk bisa berkunjung ke kota Madinah. Saya juga mendoakan siapapun yang membaca untuk dapat segera berkunjung ke tanah suci. It felt magical, yet real. Anda akan jatuh cinta sedalam-dalamnya.

Amin amin ya rabbal alamin.

DSC00357.JPG
Selamat malam, Madinah
Advertisements

7 thoughts on “Rindu Madinah

    1. Oh yaa,, takut jadi gak berkah jg dead, takut aku mah. Udah sayang sayang ke sana kalo gak berkah huhuhuuuu..

  1. Sampai saat ini selepas 3 tahun berlalu..aku masih merindu Madinah..membaca coretan ini sahaja membuat airmataku jatuh…insyallah aku akan berangkat kesana 17Feb2018 nanti…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s