Bits and Bobs · Expecting Baby · Parenting

Tentang Memiliki Dua Anak

“Dua anak cukup”

Demikian tagline BKKBN yang ramai diserukan di era 90-an. Lalu apakah tagline tersebut benar adanya? Setelah genap enam bulan punya dua anak, saya siap menjawab pertanyaan tersebut.

Dua anak berarti dua kepribadian. Biarpun lahir dari sepasang orang tua yang sama, dua anak kita adalah dua individu yang berbeda. Mereka punya sifat dan kebiasaan yang berbeda. Ilmu parenting dalam mengasuh siblings dari berbagai sumber selalu menyerukan para orang tua untuk “JANGAN PERNAH MEMBANDINGKAN ANAK”. Tapi ternyata, sebagai manusia, membandingkan kedua hal adalah sangat natural. Sangat amat manusiawi. Saya bohong kalau saya bilang gak pernah membandingkan Gavin dengan Galen, dan sebaliknya. Sejak Gavin lahir, sering terbersit pikiran, “Asik anak ini gak alergian parah kayak kakaknya”, “Hmmm, kayaknya dulu Galen gak secepat ini balik badannya!”, “Wah, kayaknya dulu si kakak gak nangisan kalo di stroller”. Tanpa saya sadari (dan saya sadari), saya sering sekali membandingkan keduanya. Blame me, but I think it’s pretty natural. Sampai pada satu hari, ketika Gavin rewel di mall, saya coba metode yang saya gunakan saat kakak rewel, goyang-goyang dan jalan-jalan ngebut pake stroller. Bukannya tenang, Gavin justru semakin rewel, menjerit meronta gak karuan. I felt bad. Lalu saya angkat dia dari stroller, saya peluk erat, “maafin ibu ya vin”, dan iapun mulai tenang. That was when I realized my two babies are two different individual. They should be treated differently. 

Dua anak bukan berarti kita punya dua hati (dan empat tangan). Moms, kita cuma punya satu hati lho. Dan kita manusia, bukan amuba yang dengan mudahnya membelah diri! Suatu waktu ketika pulang dari kantor, Galen menyambut saya dengan riang di depan pintu rumah. Otomatis saya langsung ajak dia main wara wiri. Sembari main dengan si kakak, si adik ikut ceria. Lima menit pertama baik-baik saja. Lewat lima menit berlalu, adik mulai mengeluarkan suara protes “Waa..waaa…waaa…”. Dua menit kemudian “HUWWAAAA”, air matanya mengucur. Saya yang dari tadi menemani si kakak main bola, langsung ngacir menuju adik. Adikpun langsung tenang di pelukan. Tapi sepersekian detik setelah adik tenang di pelukan saya sembari duduk di sofa, si kakak datang dengan muka beringas, tangan melayang, PLAK, dipukul lah si adik. Satu hati saya itu pecah berkeping-keping seiring tangisan Gavin yang menyeruak. “KAKAK! KASIAN ADEEE!!”. Melihat mimik saya yang sedikit emosi, Galen merasa bersalah, mundur beberapa langkah, lalu air mukanya berubah sedih. Menangislah dia. Belum sempat hati saya memadat, sudah pecah lagi. Ampun. Di momen-momen seperti itu, saya berharap ingin punya dua hati dan empat tangan untuk bisa memeluk keduanya. But I don’t.

Dua anak bukan berarti kita punya 48 jam. Satu hari tetap cuma 24 jam, yang 6 jam kita habiskan untuk tidur, 8 jam di kantor, 3 jam perjalanan pulang pergi kantor. Sisanya cuma 6 jam, dipotong waktu pagi hari kita terbangun dan mereka masih bobo. Well, kurang lebih saya cuma punya quality time 3 jam bersama anak-anak tiap harinya. 3 jam rasanya gak cukup untuk bermain sama Galen, bercerita tentang harinya, membacakan buku cerita, usel-uselan, lalu sekarang saya punya Gavin. Tiap menit di rumah jadi amat sangat berharga. Sampai di rumah, main sama si kakak, mandi, makan malam, main sama si adik, lalu ajak kakak cerita-cerita dan baca buku sampai kakak capek, lalu mengajak kakak gosok gigi cuci-cuci, mengantar ia tidur, lalu baru main sama adik lagi, kelonan sampai dia tidur. Begitu terus setiap hari, rutin namun krusial. Jangan tanya kapan saya sempat nyalon, karena benar-benar sudah lupa kapan terakhir kalinya. Paling tidak, saya masih sempat me-time nonton drama korea dan curcol-curcol di blog begini kalau anak-anak bobo. Rasanya sudah mewah banget.

Ya ampun, jadi benar ya kata BKKBN, dua anak cukup?

Hahaha… meski kadang saya suka merasa ingin melambaikan tangan ke kamera (alias menyerah) karena duo usil ini, saya juga menemukan jutaan alasan lain bersyukur dengan adanya si duo usil. Di usianya yang sekarang, Galen sudah mulai belajar mandiri. Ia mulai tidak mau diajarkan dan dibantu dalam melakukan berbagai hal, ia mulai tidur sendiri, ia mulai tidak cengeng lagi, dan yang paling bikin mellow, Galen sudah bisa pergi sendiri (eh, sama eyangnya sih) tanpa bertanya atau merengek nyari ayah ibunya. Galen mulai cuek. Galen mulai sering bikin ibu patah hati. Untungnya, saya punya Gavin yang selalu siap ceria, memandang ibunya dengan mata berbinar-binar dan tentunya, selalu marah kalau dijauhkan dari ibu. Memang hati saya cuma satu, tapi ada dua hati kecil yang selalu sibuk memperbaiki hati saya kalau agak rontok. 

Pada akhirnya, saya percaya Tuhan memang memberi kita sesuai yang kita mampu kok. Saya merasa sering “kurang” dalam menjadi ibu dan pernah berpikir satu anak cukup, tapi saya diberi amanah dua anak, mungkin ya justru untuk memperkuat diri saya, melatih saya menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Ada juga ibu yang diberikan amanah satu orang anak seperti ibu mertua saya yang hebat, ternyata tugasnya gak kalah berat dengan yang diberi dua anak karena harus membesarkan suami saya yang kadang keras kepala. Hehe.. Ada juga lho, calon ibu yang sampai sekarang belum dikaruniai anak, bukan karena tidak berusaha, tapi ternyata Tuhan memberikan ia kesempatan menabung jauh lebih lama ketimbang kami yang langsung diamanahkan anak, tapi kepat kepot pusing belum sempat bikin tabungan pendidikan. God knows best. Membesarkan anak bukan perkara mudah, itulah mengapa anak disebut amanah. 🙂

DSC06427
MY BOYS ❤
Advertisements

2 thoughts on “Tentang Memiliki Dua Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s