Scholarship and Study

Scholarship Journey #3: Wawancara

Selamat tahun baru 2019!

Tahun baru ini saya teringat akan hutang saya untuk menyelesaikan blog seri Scholarship Journey. Astaga, begini lah, kalau gak punya deadline. Master procrastinator is conquering my brain! But I will bring him down this year. Hell yeah.

Melanjutkan proses pencapaian beasiswa saya yang rasanya baru kemarin (padahal sudah tahun lalu), saya akan melanjutkan ke proses wawancara. Tahap ini kebetulan adalah proses yang paling subjektif dari semua proses perolehan beasiswa. Tapi menurut saya, justru proses ini adalah yang paling seru. I’ll tell you why later.

Saya masih ingat betul, setelah hari sebelumnya ditempa psikotes yang luar biasa melelahkan, pagi itu di tanggal 9 Mei 2018, saya bersiap wawancara dengan hati yang dagdigdug. Ketika saya nervous menghadapi sesuatu, saya akan berusaha membuat diri saya nyaman. People do it in many different ways but in my case, I tend to choose good outfit, use nice perfume, and ubercool shoes. Yes, those things help me well. 

Saya bertemu dua rekan seangkatan, Khaidir dan Nico, yang kebetulan mendapat lokasi wawancara yang sama sebelum masuk ruangan wawancara. Apparently, we were a little late. Sudah ada beberapa orang yang hadir sebelum kami. Dan ternyata, ambience di ruang tunggu adalah yang paling mendebarkan. Entah mengapa, bergabung dengan sekelompok orang yang akan melewati “cobaan” bersama namun dengan “beban” masing-masing, terasa tidak nyaman. To be honest, saya tipikal orang yang cenderung nyantai ketika menghadapi ujian dan sejenisnya. Tapi kenyantai-an saya ini bisa jadi annoyinguntuk orang lain yang lebih serius. Not that I’m not nervous, it’s just that if I let my anxiety took over my consciousness, everything will be total mess.

Singkat cerita, setelah menunggu cukup lama, saya memasuki ruangan wawancara. Ada tiga orang pejabat (yang katanya sih Eselon 2), duduk di hadapan saya. Oh ya, sebelumnya, saya harus cerita bahwa bulan sebelumnya saya juga wawancara untuk LO acara Annual Meeting IMF-WBG yang berakhir gagal, so I learned a lesson of not to be too friendly with the interviewers. Jadi di wawancara beasiswa pagi itu, saya berusaha memberi jarak yang tepat. Saya berusaha (banget) mengontrol mimik saya yang senyam senyum jadi hanya senyum tipis. I think someone should have taken my pic

Setelah menyapa dengan basa basi dengan berkharisma, bapak-bapak itu langsung masuk ke pertanyaan wawancara. I could only recap this much:

  1. Beri penilaian diri Anda antara 1-10, jelaskan mengapa.
  2. Usaha yang telah dijalani sampai dengan proses wawancara ini, what I have done so far.
  3. Seberapa ingin saya mendapat kesempatan sebagai awardee.
  4. Program studi apa yang akan ada ambil dan di mana.
  5. Kaitan antara program studi yang akan diambil dengan tugas fungsi sehari-hari.
  6. Prioritas antara professional vs personal matters.
  7. Pendapat mengenai mereka yang mendapat beasiswa namun tidak kembali ke unit kerja.
  8. Kesadaran akan regulasi yang berlaku tentang ikatan dinas.
  9. Hobi dan personal preference.
  10. Keluarga dan pandangan akan LDM (ditanya banget lho), dan rencana selama kuliah di luar negeri beserta kaitannya dengan anak-anak.
  11. Pandangan akan diri sendiri di masa depan, seperti apa yang akan diraih, target-target secara pribadi, baik di sisi  karir maupun personal life.

Well, kurang lebih begitu pertanyaan-pertanyaannya. I was prepared for harder questions but apparently it was a little easier. However, they challenged me for every single answer I gave them. Jadi buat teman-teman yang akan wawancara, akan lebih baik kalau sudah tahu betul semua rencana yang akan diambil. Yang akan terjadi nanti mungkin berbeda dengan rencana, tapi paling tidak, kita siap menjawab pertanyaan para pewawancara.

Di tengah wawancara, saya tidak bisa menahan diri saya untuk bersikap “less friendly”. Dan akhirnya, I ended up just being myself. Saya banyak senyum dan hahahihi, sampai pada akhirnya Bapak yang duduk di tengah berujar “Kamu kan hobi nyanyi, coba dong nyanyi”. Saya termangu lalu lagu yang keluar dari mulut saya “Nothing’s gonna change my love for you, you ought to know by now how much I love you, one thing you can be sure of, I’ll never ask for more than your love”

Setelah lagu itu, bapak-bapak interviewer senyam senyum dan mempersilahkan saya keluar ruangan. Masih dengan sedikit tercengang dan berpikir, what have I done, saya melangkah ke luar ruangan. Teman-teman saya yang menunggu giliran terlihat excited, tapi saya malah panik sendiri. Hahahaha.. Bagaimanapun, kalau saya disuruh mengulang lagi wawancaranya, saya tetap akan nyanyi, sih. I wouldn’t change a single bit of my answers. Dan dengan kenyataan bahwa saya diterima sebagai awardee, saya cukup yakin, entah suara saya atau jawaban saya sudah meyakinkan mereka kalau saya pantas. 

Kita mungkin bisa merencanakan, tapi lagi-lagi, Tuhan yang akan menentukan. Mudah-mudahan, cerita saya bisa membantu teman-teman yang akan diwawancara atau berencana melamar beasiswa. Percayalah, it’s not that scary coz the interviewers are just as human as us. It’s okay to make mistake, just trust yourself and stick to what you believe. That creeeeepy 30 minutes will pass. The clock is ticking.

See you in the next post. Adios amigo! :*

Advertisements

2 thoughts on “Scholarship Journey #3: Wawancara

  1. aku belum pernah ikut wawancara beasiswa sebelumnya
    jadi melihat list pertanyaan seperti ini ya postingan ini membantu sekali, nar, untuk ngebayangin nantinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s